Welcome to My Experience

Senin, 18 Februari 2013

Menyesal


Menyesal
"Lihatlah gadis remaja itu!, namanya Delia Anastasha. Dia adalah sahabatku."
"Dia cantik, sepertinya menyenangkan?" kata cowok itu
Delia Anastasha adalah sahabatku. Seperti kata cowok tadi, Delia memang cantik dan menyenangkan. Berbeda denganku yang biasa-biasa saja.
"Delia!!" teriakku
Delia yang sedang bermain bulu tangkis berhenti dan menghampiriku.
"ada apa?" tanyanya
"perkenalkan ini Dewantara Bakti. Dia adalah temanku dari Surabaya" aku memperkenalkan
"hai, Dewantara Bakti. Panggil saja Dewa" jelasnya sopan
"Delia Anatasha. Panggil saja Delia".
Aku dan Delia bersahabat sejak kami masuk ke SMA yang sama. SMA Karisma Nusantara. Aku sangat senang bisa berteman dengan Delia yang merupakan salah satu siswi populer di sekolah kami.

****
kringgggg...kringggg'
aduh berisik sekali! batinku. Aku pun terbangun dari tidurku. Ternyata suara jam bekerku.
"Oh Tuhan, ternyata sudah jam 6. Aku terlambat bangun!"
Aku pun langsung bangun dari tempat tidurku. Langsung berlari menuju kamar mandi. setelah selesai mandi dan mengenakan seragam, aku segera berangkat kesekolah. Hari Senin adalah hari yang menyebalkan. Setelah 2 hari liburan, kita harus kembali ke sekolah dan melaksanakan upacara bendera. Upacara yang banyak menimbulkan kemalasan. Dijemur selama 40 menit lamanya, slalu membuatku bosan. Apalagi aku selalu saja tak pernah sarapan, karena selalu kesiangan.
"Baru sampe? kebiasaan! begadang lagi?" tanya Delia
"ya, abis lagi seru" sahutku.
Tadi malam memang aku begadang karena terlalu asik bermain PS. 10 menit setelah upacara selesai, bel tanda pelajaran dimulai pun berbunyi. jam pertama adalah pelajaran Fisika. Bu Rahma adalah gurunya dan wali kelas kami.
" selamat pagi anak-anak. hari ini kalian akan mendapatkan teman baru. Dewa silahkan masuk dan perkenalkan nama kamu "
"selamat pagi teman-teman, nama saya Dewantara Bakti. Saya pindahan dari Surabaya." Dewa memperkenalkan diri
"baik Dewa, sekarang kamu silahkan duduk di samping Bimo." kata bu Rahma.
Dewa pun segera menghampiri tempat duduknya yang ada di belakang tempat dudukku dan Delia.
" Anak-anak, hari ini kita akan membuat kelompok untuk tugas yang akan ibu berikan dan ibu yang akan menentukan kelompoknya. setiap kelompok terdiri dari 3 orang. Dengarkan baik-baik" kata bu rahma.
" kelompok pertama, Anggia, Wulan dan Risky. Kelompok kedua, Bimo, Devi dan Sarah. Kelompok ketiga Karin, Jojo dan Tina"
aku berdo'a semoga aku sekelompok dengan Delia dan Dewa
"Dan kelompok terakhir adalah Stefani, Delia dan Dewa" kata bu rahma lagi.
aku tersenyum, menyenangkan sekali sekelompok dengan mereka berdua. Aku telah mengenal Dewa sebelumnya. Dia adalah temanku saat aku masih tinggal di Surabaya. Dia juga sudah memberitahuku tentang kepindahannya ke Jakarta.
Kami pun menentukan kapan kami akan mengerjakan tugas pemberian Bu Rahma. Setelah ditentukan, kami akan mengerjakan tugas tersebut hari Minggu, di rumah Delia.

**** 
Hari-hari setelah hari mengerjakan tugas itu terasa berbeda. Aku dan terutama Delia semakin dekat dengan Dewa. Tapi setelah tiga bulan berlalu, aku merasakan ada sesuatu yang berbeda antara Delia dan Dewa. Mereka suka pergi berdua tanpa aku, tampak sangat kompak di sekolah. Tanpa sadar aku iri terhadap mereka berdua. Tapi aku berpikir, mungkin itu hanya perasaanku saja.
kringgggg' kringgg'
tanda bel pelajaran berakhir telah berbunyi dan semua anak telah bersiap-siap untuk pulang.
"Fan, kita pulang duluan ya..bye" kata Delia sambil berjalan yang diikuti oleh Dewa.
lagi-lagi mereka tidak mengajakku. Aku bingung ada apa sebenarnya. Tiba-tiba ada rasa kesal di dalam hatiku. Ada apa sih denganku? batinku.
Aku merasa kesepian. kedua orang sahabatku sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Aku ingin berkumpul bertiga dengan mereka, mengobrol tentang sesuatu yang tidak jelas, saling mengejek satu sama lain. Tapi sekarang semua telah berubah. Kemarin tanpa sengaja aku melihat mereka bergandengan, tertawa berdua, seperti orang yang sedang berpacaran.
Malam ini aku tidak bisa tidur. Pikiranku sedang kacau. Aku memikirkan, apakah ada hubungan lain antara Delia dan Dewa selain bersahabat. Apa Delia dan Dewa pacaran?ah, pikiran itu membuat hatiku sakit.

****
"Delia, aku  mau bicara sama kamu!"
"mau bicara apa Fan?" tanya Delia padaku
"ayo ikut aku, jangan bicara disini!" ajakku
kami pun sampai di halaman belakang sekolahku.
"aku cuma mau nanya, apa kamu suka sama Dewa? kamu pacaran sama Dewa?" tanyaku langsung.
"hmmm, ya aku suka sama Dewa. emang kenapa?" tanyanya
"nggak apa-apa. aku hanya bertanya saja" jawabku.
Jawaban Delia membuat hatiku tiba-tiba terasa sakit. Aku pun langsung lari dari tempat itu. Delia, orang yang telah aku anggap sahabat ternyata mengkhianatiku. Aku kira dia sahabat yang baik ternyata dia tidak seperti dugaanku.
Belakangan ini, aku memilih untuk menjauh dari mereka berdua. Aku tidak ingin hatiku sakit karena melihat mereka berdua. Aku salah mengira mereka. Jujur, aku marah dengan pengakuan Delia waktu itu.
Tiba-tiba ada suara ketukan di pintu kamarku. Tidak mungkin itu suara ketukan orang tuaku, lagian orang tuaku selalu pulang malam. Aku sudah bisa menduga siapa yang datang. Delia
"Fani, boleh aku masuk?" suara Delia membuyarkan lamunanku.
"ya, masuk" jawabku
Delia masuk dengan wajah ceria. Aku tidak tahu ada apa dengannya. Seingatku, dia tidak pernah seceria ini.
"ada apa Del?" tanyaku pada Delia
"Dewa, Dewa nembak aku. Sekarang aku pacaran sama dia" katanya
deg! apa aku salah denger? Delia bilang dia pacaran sama Dewa?
"Dia nembak aku, tadi siang. Fan, Fani"
suara delia membuatku terkejut.
"oh, selamat deh"
"kamu kenapa Fan?"
"gapapa"
"Fan kalo ada apa-apa cerita sama aku"
"kamu inget kalo aku pernah cerita ke kamu soal cowok yang aku suka?"
"ya. yang orang surabaya kan? kenapa?"
"ya. kamu tau dia siapa? dia adalah Dewa. Orang yang sekarang jadi pacar kamu?"
aku pun tidak bisa menahan air mataku. Aku tidak bisa menahan rasa sakitku.
"Fani, apa kamu pernah suka sama seseorang?"
"ya.sampai sekarang aku masih suka sama dia."
"siapa dia? sepertinya dia orang yang baik"
"ya, sangat baik. dia temanku saat aku di surabaya. dia orang yang menolongku ketika aku tersesat, saat pertama kali aku ke surabaya. dia juga ganteng"
Aku pernah menceritakan tentang orang yang ku suka kepada Delia. Dan orang itu kini adalah pacar Delia. Hatiku sakit dan terasa sesak. Aku pun menangis semalaman di kamarku. Setelah pengakuan itu, aku memutuskan untuk menjaga jarak dengan mereka berdua. Aku tidak bisa dekat dengan mereka seperti dulu. Aku pun memutuskan untuk pindah ke Bandung. Karena sebantar lagi ujian, aku harus  lebih giat dan fokus belajar.

****
Ujian telah selesai dan aku sudah memutuskan kalau aku akan kuliah di ITB. tiba-tiba aku teringat kepada Delia dan Dewa. hatiku sakit mengingat pengkhianatan Delia kepadaku. Tapi aku kangen dengan Delia dan Dewa. Seminggu lagi aku akan berulang tahun. Aku ingin merayakan ulang tahunku dangan Delia seperti tahun-tahun sebelumnya.
Tiba-tiba handphone ku berbunyi. Ternyata dari Wulan, teman sekelasku dulu.
"Ada apa lan? tumben nelpon?" tanyaku
"itu, Delia dan Dewa kecelakaan dan meninggal" kata Wulan
Aku tidak mendengarkan ucapan wulan lagi. Aku sibuk dengan pikiranku sendiri.
Delia dan Dewa kecelakaan dan meninggal? tidak mungkin! batinku. Air mataku mengalir, aku tidak bisa menahannya. ini kenyataan yang paling menyakitkan.
Keesokan harinya, aku langsung menuju Jakarta dan sekarang di sinilah aku berdiri. Di pemakaman di daerah jakarta, diantara makam Delia dan Dewa. Aku merasa bersalah terhadap mereka berdua. Mereka kecelakaan karena ingin menyusulku ke Bandung, tapi belum setengah perjalanan, bus yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan.
24 Mei adalah hari ulang tahunku. Hari saat aku dilahirkan oleh Ibuku. Ulang tahunku tahun ini sangat berbeda dengan ulang tahunku pada tahun-tahun sebelumnya. Hari ini tepat hari ulang tahunku dan tepat 5 hari kematian sahabatku. Waalupun aku marah kepada Delia dan Dewa, tapi aku tetap menganggapnya sebagai saahabatku.
****
Tiba-tiba terdengar suara bel, sepertinya ada tamu. Aku pun membuka pintu dan menerima sebuah kiriman. Hadiah ulang tahun? dari siapa?. Aku pun membuka hadiah itu, ternyata ada sebuah boneka beruang dan sebuah foto. foto Aku, Delia dan Dewa. Serta ada sebuah surat.
Happy Birthday Sahabatku, Stefani 
hadiah ini khusus untukmu dari aku dan Dewa. apakah kamu masih marah kepadaku? aku harap tidak. tapi jika kamu masih marah, aku akan menjelaskan sesuatu padamu agar kamu nggak marah lagi sama aku. aku dan dewa tidak pernah pacaran, kami hanya bersahabat. ketika kamu bertanya apakah aku menyukainya, aku menjawab ya aku menyukainya. tapi aku menyukainya sebagai seorang sahabat tidak lebih. dewa sebenarnya suka sama kamu. dia mau nembak kamu pas kamu ulang tahun. dia mengajakku untuk bekerja sama karena dia mau ngasih kamu kejutan. aku berpura-pura pacaran sama dia agar kami tahu gimana reaksi kamu. sebenarnya aku mau ngejelasin ini sebelumnya karena aku nggak mau kamu marah sama aku, tapi kamu udah pindah duluan.
Stefani, aku sayang kamu. Kamu adalah sahabatku yang paling baik sampai kapanpun. sekali lagi, Happy Birthday ya.
sahabatmu
Delia Anastasha
aku pun menangis. aku sangat menyesal akan tindakanku. kesalahpahaman antara aku dan Delia membuat aku sangat menyesal dan merasa bersalah. kini semua telah berakhir, aku sendiri dan harus melanjutkan hidupku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar